Anakku Seperti Robot itu

July 24, 2008 · Print This Article

Aku sangat iri dengan anak-anak yang pentas di  Televisi. Anak-anak itu lincah, pintar dan membanggakan. Tentu orang tuanya sangat bahagia. Itu terlihat  jelas saat camera TV menyapu wajahnya. Aku tidak kenal siapa dia, tetapi sebagai orang tua aku bisa ikut merasakan apa yang ada di hatinya. Bukan hanya  aku, tetapi banyak orang tua juga yang ikut merasakan serupa –aku yakin itu. Orang tua mana sih yang tidak senang dan bahagia melihat anaknya lucu-lucu, sehat-sehat, pintar-pintar dan kreatif?

Itu kulihat lima tahun lalu di acara salah satu stasiun televisi, bertepatan pada saat istriku mulai awal-awal mengandung anakku yang pertama. Sejak itu terbayang dalam pikiranku anakku juga akan seperti anak-anak itu. Melihat anak orang lain saja aku merasa bahagia, apalagi melihat anak sendiri. Aku ingin sekali anakku seperti anak-anak yang pentas di Televisi itu. Anak-anak itu baru berusia sekitar dua tahun, tetapi tidak lagi nampak seusia dua tahun, karena kepintaran, kekreatifan dan kelucuannya.

Sejak melihat pentas anak-anak itu, aku punya kebiasaan baru. Sering menonton acara serupa, dan mendengarkan cerita-cerita tentang bagaimana cara mendidik anak. Istriku sangat kaget ketika awalnya, karena sebelum itu aku tidak begitu peduli dengan urusan yang oleh banyak orang disebut sebagai urusan perempuan. Bukankah pendidikan anak selama ini dikontruksikan sebagai urusan perempuan, para ibu?

Istriku terlihat semakin cerah hidupnya dengan perubahan sikapku, apalagi ketika suatu saat dia bertanya mengapa aku demikian. Dengan jelas kusampaikan alasanku bahwa aku merasa makin sempurna sebagai manusia saat istriku mengandung benih calon anakku. Hanya itu yang kusampaikan, tetapi ternyata telah cukup menjelaskan kepada istriku. Hari-hariku bersamanya sangat indah, dan aku selalu menyempatkan diri menemani istriku di rumah menjalani tugas mengandung anakku.

Sejalan dengan itu, aku pun rajin berdiskusi dengan beberapa teman yang telah mempunyai anak. Diskusi tentang apa saja berkait dengan anak, termasuk tentang pendidikan mereka. Secara tidak sadar aku menjadi banyak tahu kenapa anak si A itu pintar, kreatif, sementara anak lainnya tidak demikian. Aku telah menjadi seorang peneliti, dan aku merasa banyak hal yang aku dapatkan dan aku ingin juga menerapkan dalam kehidupanku, khususnya dalam pendidikan anakku kelak.

****

Aku membeli beberapa peralatan seperti walkman kecil untuk memutar lagu-lagu klasik. Banyak teman yang menyarankan agar sejak dini si jabang bayi didengarkan lagu-lagu klasik karena akan bisa meningkatkan kecerdasan bayi. Aku tidak tahu, apakah itu kecerdasan otak kanan atau otak kiri. Aku hanya tahu bahwa beberapa teman yang anak-anaknya pintar dan kreatif katanya dulu saat bayi sering mendengar lagu-lagu itu. Selain walkman, aku juga membeli beberapa peralatan lain yang tujuannya hampir serupa.

Tidak hanya peralatan macam begitu, tetapi juga aku mengedrop  gizi anaku. Aku selalu berusaha agar istriku makan empat sehat lima sempurna, walau sangat sederhana. Kadang aku membeli beberapa makanan khusus yang disarankan oleh beberapa teman, termasuk dokter untuk kesehatan anakku. Aku tidak jarang harus berbelanja sendiri bila istriku sedang capai untuk membeli semua kebutuhan itu. Aku senang sekali.

Semua itu aku lakukan dengan harapan anakku menjadi anak yang baik, pintar, sholeh, seperti beberapa anak temanku. terutama anak-anak yang aku lihat dalam pentas Televisi saat awal kehamilan istriku. Dan kebiasaan baik itu aku jalani sampai anakku lahir sembilan bulan kemudian.

***

Kini anakku telah empat tahun usianya. Dua minggu lalu baru saja  anakku ulang tahun. Tapi aku tidak merayakan ulang tahun anakku. Tidak hanya tahun ini, tapi  tahun lalu juga tidak. Perayaan ulang tahun hanya ketika usia anakku satu dan dua tahun. Bukan karena aku lupa, tetapi karena aku merasa kecewa. Ya, aku merasa kecewa karena anakku tidak seperti yang aku harapkan.

Anakku tidak seperti anak teman-temanku, tidak seperti anak dalam layar Televisi lima tahun lalu. Anakku pendiam, atau mungkin bukan pendiam, tetapi pemurung. Sering duduk sendiri di pojok ruangan, sambil mendongakkan kepala melihat langit-langit. Matanya berkaca-kaca, seolah ingin mengucapkan sesuatu tetapi bibirnya tidak mau bergerak. Anakku hanya mau berbicara bila diajak bicara. Dia pendiam, pemurung, tubuhnya kurus, dan tidak mau bermain-main layaknya anak seusianya.

Aku kecewa, terus terang saja. Karena apa kekuranganku? Apa pula kekurangan istriku? Bukankah sejak hamil aku dan istriku menaruh perhatian yang banyak kepada anaku? Bukankah asupan gizi juga tidak kalah dengan anak tetangga? Bukankah pula alat permainan yang dipunya oleh semua anak kampung aku juga membelikan untuk anakku. Bahkan ada pula permainan yang tidak dipunya anak-kampung, sementera anakku mempunyainya? Termasuk DVD pembelajaran anak usia dini?

Tidak hanya itu. Aku juga membelikan whiteboard, spidol, tempat belajar anakku menulis. Juga buku tulis dan gambar sebagai tambahanya. Sementara itu, di dinding di banyak ruangan di rumahku juga aku tempeli gambar-gambar apa saja yang disuka anak-anak. Karena saking banyaknya gambar itu, sampai suatu ketika seorang teman datang dan berkomentar, “rumahmu seperti taman kanak-kanak saja.” Aku hanya tersenyum mendengar komentar temanku, sambil menjelaskan sedikit mengapa demikian.

Aku makin kecewa karena aku telah meluangkan waktu begitu banyak untuk anakku. Apapun aku lakukan agar pekerjaanku di kantor segera selesai, sehingga aku bisa pulang menemui anaku. Istriku pun sama, setuju lebih menomorduakan anak, sehingga pekerjaan istriku dikurangi. Istriku seorang penjahit, dan tawaran menjahit dikurangi 50% dari sebelumnya agar punya waktu banyak untuk mengurus anakku.

****

Sejak pagi, sampai malam, aku buat jadwal ketat untuk anakku. Ini pendidikan, sehingga harus disiplin. Sejak pagi sekali, sehabis bangun tidur anakku kumandikan. Sambil menunggu aku berangkat kerja, aku menyempatkan diri memberi makan anakku dan mengajari ini dan itu. Setelah aku berangkat, lalu gantian istiku juga mengajari ini dan itu. Pengajaran langsung, kadang melalui media DVD.

Pukul 09.00 WIB anakku sudah harus tidur, sampai siang. Dan ketika aku pulang kerja, pukul 13.00 anakku sudah bangun, makan siang, dan siap belajar lagi. Sampai sekitar puku 15.00 untuk tidur lagi sampai mandi sore sekitar puku 16.30. Sehabis maghrib, juga demikian, belajar lagi, begitulah seterusnya, sampai anakku berusia dua tahun.

Jadwal ketat pendidikan untuk anakku mulai jarang kulakukan sejak usia anaku dua tahun. Aku mulai merasa capai sekali karena  apa yang aku lakukan nampaknya  sia-sia. Aku marasa sia-saia karena apa yang aku harapkan tidak terjadi pada anakku, apalgi seperti anak-anak di Televisi itu. Anakku bukannya sehat seperti anak-anak tetanggaku, tidak pula lucu, apalagi pintar. Aku  lelah, kecewa, sampai kini akau telah berusia empat tahun.

****

Setiap malam, aku menyempatkan diri melihat anakku yang tertidur pulas di pelukan ibunya. Aku menangis. Entah, aku menangisi anakku atau aku menangisi kekecewaanku. Sampai suatu ketika, setelah melihat anakku, aku menonton televisi. Ada berita menarik. Sebuah boneka eletronik telah diciptakan oleh sebuah industriu besar di luar negeri. Boneka elektronik yang dikenal sebagai robot. Ya, sebuah robot yang katanya pintar. Boneka itu akan di-release tahun mendatang, dan konon boneka itu akan dijual seharga ratusan juta rupiah.

Kesadaranku terhentak setelah mendengarkan, sekaligus melihat boneka elektronik itu. Boneka itu berlari menggunakan rodanya ke pojok ruangan, lalu berusaha membelok, sambil mendongakkan kepalanya. “Mirip anakku,” tiba-tiba aku  berpikiran demikian. Anakku yang sering di pojok ruangan, mendongakan kepala, meihat entah apa di langit-langit rumah. Ya, posisi boneka itu mirip dengan posisi anakku.

Tak terasa air mataku meleleh ketika tiba-tiba muncul sesuatu dalam kesadaranku. Sesuatu yang selama ini tidak pernah hadir, sesuatu yang semakin aku resapi maknanya semakin membuat aku merasa bersalah. Sulit aku mengatakan sesuatu itu apa, tetapi melihat boneka elektronik itu sesuatu itu makin jelas. Anakku seperti robot. Ya, aku selama ini menjadikan anakku seperti robot.

Seperti robot?

Ya, aku menjadikan anakku seperti root. Setiap hari aku memprogramnya agar dia bisa seperti yang aku angankan, sesuatu yang aku impikan, sesuatu yang aku harapkan berakhir dengan kebanggaan. Susuatu itu memang baik, kelucuan, kepintaran dan kesholehan. Tapi, ternyata anakku menjadi seorang pendiam, pemurung, tidak lucu, tidak pintar.

Aku beranjak dari tempat duduk, menuju kamar tempat anakku tidur dipelukan ibunya. Aku mendekatkan wajah ke pipi anakku. Aku menciumnya dengan lembut sampai pipi anakku basah terkena tetesan air mataku. “Maafkan ayahmu, yang egois, hanya mementingkan kepentingan sendiri. Seharusnya aku tidak demikian,” sebuah suara tak berkata-kata mucul dari dalam hatiku.

Air mataku terus mengalir, sampai suara azan bergema nyaring di gendang telingaku…..

 

Akhmad Murtajib, bukan sastrawan bukan budayawan. Tinggal di salah satu kampung di Kebumen.

—————————————–

Cerita *yang ditulis sekali duduk* di atas hanyalah fiksi, tetapi kejadian serupa pernah menimpa seorang teman. Semoga bisa menjadi pelajaran bagi kita, orang tua yang egois dan melupakan bahwa anak-anak juga punya dunia sendiri yang tiak boleh kita paksa sepeti kita. “Dunia anak-anak” adalah “hak mereka”, selamat Hari Anak Nasional, 23 Juli 2008.

Comments

One Response to “Anakku Seperti Robot itu”

  1. Siska on July 24th, 2008 4:03 pm

    Bener juga, salah satu tantangan paling besar sbg ortu adalah melepaskan anak untuk tumbuh menjadi dirinya sendiri. Tiap hari harus bergumul dgn keinginan untuk mengontrol dan menguasai, meskipun maksudnya baik tapi salah2 malah ngerusak. Salut Pak… ceritanya bagus, menyentuh sekali, well written too.

Got something to say?