Tahu Nama Presiden Filipina, Tak Tahu Nama Ketua RT Sendiri

July 18, 2008 · Print This Article

Bukan hal aneh tapi nyata, walaupun kasuistik.

Seorang anak berusia belasan tahun dikenal pintar karena nilai rapor sekolahnya bagus. "Dia termasuk  tiga besar," kata seorang muda tetangganya. Tiga besar yang dimaksud adalah posisi rangking di kelasnya yang berjumlah 40an murid. Memang pintar, terbukti ketika ditanya tentang nama-nama presiden, dari presiden Republik Indonesia, Presiden Amerika, termasuk Presiden Filipina. Dia hapal menyebut nama-nama presiden itu. Anehnya, ketika ditanya "siapa nama ketua RT tempat kamu tinggal?" Sorot mata anak itu menunjukan kebingungan, lalu kepalanya menggeleng. "Tidak tahu," mungkin itu yang hendak dikatakan.

Pertanyaan lain pun sama. Ditanya nama-nama ibukota berbagai negara, anak itu lancar menjawab. Tapi ditanya ada berapa RT di RW tempat tinggalnya, anak itu kembali mengelengkan kepala. Termasuk tentang nama-nama dan bentuk binatang yang ada di dunia dia lancar menjawab, tetapi sangat kebingungan ketika ditanya jenis tikus apa yang biasanya merusak padi di sawah-sawah di kampungnya.

Anak itu juga bisa menggambar peta Indonesia, dan bisa menunjukan nama propinsi di sebelah barat serta sebelah timur. Tapi, lagi-lagi, anak itu ketika diminta menggambar peta kampungnya sendiri, dia menggelengkan kepalanya. Dan begitulah seterusnya, sesuatu yang ada "disana-sana" anak itu mengetahui; tetapi sesuatu yang ada "di sekelilingnya" anak itu tidak mengetahuinya.

Memang kasuistik cerita itu, tapi saya kira banyak anak yang demikian. Tidak hanya anak-anak malah, tapi remaja, pemuda bahkan orang tua juga banyak yang demikian. Sebuah kenyataan yang sering saya jumpai, anda juga mungkin pernah menjumpainya. Saya sendiri pun, jujur saja he he he he, dalam banyak hal demikian, lebih tahu dunia yang disana-sana daripada tentang lingkungan saya sendiri.

***

Ironis memang, tapi begitulah yang kini mulai terjadi.

Sebagian orang menyebut itu adalah dampak dari modernisasi.  Teknologi produk modernisasi yang kini bertebaran dimana-mana, termasuk telah masuk kampung, adalah salah satu sumber dari kenyataan itu. Dulu, ketika TV belum masuk kampung, keakraban warga kampung sangat tinggi. Saya masih ingat ketika malam hari, apalagi ketika bulan purnama, bersama dengan teman-teman bermain di halaman. Ada main-main dos-dosan, ada main litongan, dan seagainya. Permainan yang sangat mengasikkan, terbukti sering permainan itu sampai tengah malam. Dan kami sangat hapal setiap sudut-sudut kampung, termasuk temapt-tempat bersembunyi yang sangat prinpen (rahasia).

Tapi itu cerita jaman dulu, yang sekarang tidak ada lagi. Cerita yang menjadi kenangan bagi orang tua yang berusia anak-anak ketika itu. Cerita yang untuk didongengkan kepada anak-anak jamansekarang saja tidak lagi menarik, apalagi diajarkan kepada mereka. Karena anak-anak jaman sekarsng lebih asik duduk manis di depan TV, sambil memegang remote control memilih-milih acara kesukaannya. Apalagi bila oarng tuanya serba sibuk, mereka –memang tidak semua– sangat senang bila anaknya tidak mengganggunya karena telah diam duduk manis depan televisi.

Tidak hanya TV, tetapi juga produk-produk mainan lainnya, termasuk playstation. Kini PS telah menjamur di berbagai tempat, dan menyita waktu dan pemikiran anak-anak yang memang telah keranjingan terhadap permainan itu.

Dan sebenarnya masih banyak lagi produk modernisasi yang –diakui atau tidak– menjauhkan anak-anak dari lingkungan sekitarnya. Menjauhkan yang berkonotasi luas, berupa semakin tidak mengenal lingkungannya. Dampak terjauhnya adalah semakin muncul rasa tidak peduli dengan ingkunganya sendiri. Lingkungan dimaksud disini tidak hanya bermakna alam, tetapi juga masyarakat di sekitarnya.

****

Tidak semata bersebab dari teknologi produk modernisasi itu. Tapi, berikut ini menurut saya juga perlu kita cermati.

Anak-anak sejak pagi, setidaknuya sejak pukul 06.30 WIB sudah harus siap sekolah. Pulang sekitar pukul 13.00 WIB. Anak itu berangkat lagi ke sekkolah sore hari bila ada kegiatan tambahan. Bila dihitung-hitung seharian anak-anak jaman sekarng berada di sekolah dari pagi hingga sore hari.

Saya tidak bisa membayangkan, walaupu saya juga pernah mengalaminya. Anak-anak itu harus duduk manis di kelas, sejak pagi hingga siang, mendengarkan ceramah guru. Sore pun, bila  ada les tambahan, anak-anak itu kembali duduk di bangku, mendengarkan ceramah guru. Agak beda jika kekgiatan sore hari itu kegiatan di alam, sehinga anak-anak pindah tempat tidak hanya di ruangan. Dan, kegiatan yang sepanjang hari itu, kecuali hari minggu bila tidak ada kegiatan, dilakukan selama 6 tahun ketika setingkat SD/MI, 3 tahun ketika SMP/MTS dan seterusnya.

6 tahun di siang hari,dipotong hari minggu dan libur, anak-anak itu berada di sekolah. Ketika di rumah, tidak jarang pekerjaan sekolah masih harus dikerjakan, di tambah lagi dengan kegiatan lain berupa nonton TV, main playstation, dan setrusnya. Dan, ketika anak-anak bermain melebihi waktu, tidak sedikit pula orang tua yang memintanya untuk pulang dengan alasan: ini jam belajar, pulang!

Saya tidak tahu, apakah aktivitas sekolah ini juga menjadi salah satu sebab mengapa banyak anak yang tahu banyak hal yang ada disana-sana sedangkan meraka tidak tahu dengan lingkugan sekitarrnya? Jawabannya bisa jadi ya, apalagi kalau ditambah dengan kenyataan bahwa pelajaran yang ada disekolahnya tidak ada yang menyangkut lingkungan sekitar. Kayaknya tidak ada pelajaran geografi dimana tugasnya adalah menggambar pera desanya sendiri, tidak ada pelajaran sejarah yang mengajarkan sejarah kampungnya sendiri, dan seterusnya.

****

Lantas, apa perluanya mengenal kampung sendiri sementara kini zaman sudah modern dan global? 

Saya kira masing-masing kita sudah mengetahui jawabannya.***

Akhmad Murtajib

Comments

Got something to say?